Esensi Sepi

2 11 2008

Sepi. Suatu kondisi nonpermanen dimana kita tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Jika anda ingin merasakan sepi, belajarlah pada orang gila. Mereka adalah pemuja sepi yang abadi. Terlalu jauh mereka melangkah ke dalamnya, hingga lupa dimana letak jalan kembali. Kasihan memang.

Sepi disini bukanlah sepi yang abadi, yang selama-lamanya seperti itu. Namun lebih pada kesementaraan saja. Sepi tanpa hilang kesadaran. Sepi tanpa menyia-nyiakan waktu. Sepi yang bermanfaat. Kadang kita perlu sepi yang seperti itu. Ya, tidak ada salahnya sekali-kali mengasingkan diri dari suatu sistem yang mengikat kita. Mengasingkan diri dari orang lain. Mengasingkan diri dari ego kita. Toh hanya dilakukan sekali-sekali. Tidak mengapa bukan?

Sepi, kadang membuat lupa akan dunia. Lupa akan cobaan atau nikmat-Nya. Padahal esensi sepi itu tidak lepas dari kedua hal tadi, cobaan dan nikmat. Cobaan karena sepi hakekatnya menguji kesabaran manusia untuk bisa memahami diri. Tanpa sepi, kita tidak akan pernah punya waktu untuk merefleksikan kesalahan-kesalahan kita di masa lampau. Tanpa sepi, kita tidak akan pernah punya waktu untuk merancang kebaikan-kebaikan di masa depan. Ya, hampir tak terasa seperti cobaan sebenarnya.

Di sisi lain, sepi adalah bagian dari nikmat-Nya. Sepi hakekatnya memberikan kita waktu untuk mengingat kembali siapa kita. Siapa yang telah menciptakan kita. Untuk apa kita diciptakan. Atau malah lebih jauh lagi, apa saja yang sudah kita lakukan terhadap pencipta kita. Tanpa sepi, kita tidak akan pernah punya waktu untuk mengingatNya. Mengingat pencipta kita. Mengingat Allah. Sungguh suatu nikmat yang luar biasa.

Sepi sebagai cobaan

Cobaan. Keadaan dimana keimanan kita, kepercayaan kita kepada keberadaan illahi, sedang diuji. Untuk sebagian orang, mungkin mereka merasa sering ditimpa cobaan. Sebagian lainnya merasa jarang diberi cobaan. Itu relatif bagi manusia, karena cobaan hanya milik-Nya. Hanya Dia yang tau apakah suatu kejadian masuk sebagai cobaan atau tidak.

Sepi sebagai cobaan karena menguji kesabaran manusia untuk bisa memahami diri. Beberapa diantara kita tidak berani atau tidak sempat untuk memahami diri. Untuk yang tidak berani, mereka pengecut. Mereka terlalu takut untuk mengakui kekurangan pada dirinya. Sedangkan untuk yang tidak sempat, saatnya anda mengenal sepi. Pahamilah sepi sebagai cobaan, bersabarlah, lalu pahami diri anda sampai akar terdalamnya.

Tanpa sepi, kita tidak akan pernah punya waktu untuk merefleksikan kesalahan-kesalahan kita di masa lampau. Sering kita menyepelekan hal ini. Menganggap yang lalu biarlah berlalu, menganggap sejarah hanya sekumpulan kenangan buruk. Padahal merefleksi diri itu perlu, agar kita tidak terjatuh dua kali di lubang yang sama.

Tanpa sepi, kita tidak akan pernah punya waktu untuk merancang kebaikan-kebaikan di masa depan. Sering kita membiarkan hidup seperti air yang mengalir. Sehingga semuanya dikerjakan secara spontan tanpa pikir panjang, tanpa rencana yang matang, tanpa logika. Akibatnya kita hanya akan jadi korban trend, zombie tepatnya. Bukankah lebih baik kita yang menentukan kemana kaki kita melangkah, kemana jalan pikiran kita tertuju, ke mana arah masa depan kita. Contohlah bung karno, jika dia membiarkan hidupnya seperti air yang mengalir, tidak mungkin ada istilah merdeka bagi bangsa ini. Itulah gambaran betapa pentingnya menyisihkan waktu untuk merencanakan masa depan.

Sepi sebagai nikmat

Nikmat. Keadaan dimana Allah memberikan karunia pada makhluknya. Ini tidak relatif. Jika kita merasa tidak pernah diberi nikmat oleh Allah, salah besar. Karena jika sampai detik ini juga Allah mengizinkan diri kita bernapas, berarti sampai detik ini pula kita masih diberi nikmat. Jadi selama kita hidup, kita tidak bisa lepas dari nikmat.

Tanpa sepi, kita tidak akan pernah punya waktu untuk mengingatNya. Mengingat apa yang telah Allah anugrahkan pada kita. Kesehatan, kehidupan, tempat tinggal, harta, saudara, teman ah bahkan kita tidak akan bisa menghitungnya. Jadi sisihkan waktumu untuk sepi karena sepi telah Allah ciptakan agar kita punya waktu untukNya.

 

Itulah sepi jika dilihat dari berbagai sudut pandang, bukan hanya sudut pandang yang menjustifikasi sepi itu sia-sia karena membuang waktu atau hanya sudut pandang yang menjustifikasi sepi itu lebih baik daripada bergaul. Namun keduanya. Jika kita bisa berpandangan seperti itu, sepi pun bisa bermanfaat.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: