first post, for my mom

2 11 2008

pertama guwe bingung mo nulis apa. trus keinget sesuatu. jadi deh…

Inilah sebuah kisah perjuangan hidup manusia. Ya, seorang manusia yang sejak 20 tahun lalu sampai detik ini masih mencari apa makna dari perjuangan. Mungkin dia masih belum sadar jika perjuangannya baru dimulai, atau malah telah berakhir dengan tragis. Only God knows that, that man just predict as far as he can.

30 september 1988, 20.00 wib, sebagian besar penduduk Indonesia menonton film G30SPKI, siapa yang peduli. Seorang ibu berjuang menunaikan apa yang dia anggap kewajibannya. Dia bertarung melawan rasa sakit. Bertarung melawan kematian yang sewaktu waktu bisa menjemputnya. Bagaimana dia bisa begitu berani, padahal apa yang ia pertaruhkan masih begitu abstrak. Dia berharap agar anak yang dikandungnya nanti bisa menjadi manusia yang berguna, atau setidaknya anak itu bisa menghirup udara di bumi, merasakan indahnya sesuatu yang dinamakan kehidupan.

Dan … keinginannya terkabul, sebentuk bayi mungil diiring tangisan pertama baru saja dilahirkan ke dunia ini. Dunia yang sebagian penghuninya mengatakan kejam, tapi sebagian yang lain mengatakan indah. Ironi memang. Begitu dia termenung,haru campur senang sampai Bidan menyentuh bahunya. Lalu dibisikkan sebuah kata yang memang sudah lama ingin didengarnya “laki laki, anak ibu laki laki!”, alangkah bahagianya hati ibu itu. Nama yang sudah ia dan suaminya siapkan berminggu minggu sebelumnya seolah terukir di penjuru ruangan kecil itu. Dengan penuh harapan dia bisikkan sebuah nama ke telinga sang bayi. Adhiarsa rakhman. Ya, adhiarsa rakhman. Namamu Adhiarsa Rakhman. Sang bayi tetap menangis. Menangis karena belum tahu apa apa. Seandainya dia tahu, pasti dia merasa bangga. Sangat bangga.

Adhi kecil tumbuh menjadi sesuatu yang nakal, bahkan saking nakalnya tak jarang anak tetangga dibuat menangis. Dia ingin segala permintaanya dipenuhi. Dia ingin menjadi diktator di dunianya. Lalu apa yang ibunya lakukan, apakah langsung menamparnya, atau malah mengusirnya dari rumah. Tidak. Ibunya hanya tersenyum dan menasehati dengan sabar karena ia paham, pendidikan itu tidak bersinergi dengan kekerasan. Oh, seandainya para praja praja ipdn yang arogan, para senior senior kelas 3 sma 70 jakarta yang sok berkuasa, dan para pelaku kekerasan lainnya bersikap seperti ibu itu…

Menjelang usia sekolah adhi disekolahkan di TK bhayangkari purwareja klampok. Dibimbing guru TKnya bu Tinah dan bu Prapti ia belajar. Di sana ia tidak hanya belajar menulis, menggambar, melipat kertas, membuat kerajinan tangan dan mewarnai tapi dia juga belajar bersosialisasi, bagaimana cara berinteraksi dengan sesamanya. Suatu hal penting yang kadang dilupakan para guru privat.

Namun adhi kecil belum bisa lepas dari ibunya. Pernah saat dia mencoba makan cabe, dia menangis karena tidak tahan pedasnya. Dia berlari pulang dan mengadu pada ibunya. Dengan sabar perempuan itu menerima pengaduan buah hatinya, dan lagi lagi dia tidak marah, hanya memberikan nasehat. Pernah adhi kecil kemasukan sebutir kacang di hidungnya. Dia menangis meronta ronta. Ibunya langsung membawanya ke rumah sakit. Tak ada keraguan di pikirannya untuk mengeluarkan biaya pengobatan yang tidak sedikit demi kesembuhan anaknya. Pernah adhi kecil menderita demam tinggi, sehingga tiap malam terus meracau. Dibawa ke dokter pun tak kunjung sembuh. Apakah sang ibu lalu menyerah dan berpangku tangan. Tidak. Dia berlari kesana kemari mencari pengobatan alternatif. Alhamdulillah setelah berapa lama, Allah memberi kesembuhan kepada adhi kecil.

Beranjak SD adhi menjadi semakin tekun belajar, alhasil dia berhasil memenuhi syarat untuk dipindahkan ke SD unggulan. Pernah sekali ia ditunjuk mewakili sekolahnya mengikuti lomba mata pelajaran IPA. Alhamdulillah peringkat 3 se kabupaten berhasil diraih. Mungkin saat itu kali pertamanya dia bisa membuat bangga orangtuanya, walaupun saat itu adhi sama sekali tidak merasa seperti itu.

Di sisi lain, adhi yang beranjak dewasa seolah menemukan jati dirinya. Dia merasa sudah terlalu dewasa, terlalu pintar, terlalu benar, terlalu sempurna untuk mendengarkan nasihat ibunya. Sekali waktu terselip keinginan untuk kabur dari rumah. “orangtuaku terlalu memaksakan kehendak, terlalu idealis”pikirnya. Pemikiran itu ia pendam sampai akhirnya ada seorang sahabat yang memberinya nasihat. “kamu itu salah! Orangtua memberikan nasehat karena menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan satu lagi, kalau kamu pikir kamu bisa bekerja , lalu kamu kumpulin uang buat membalas jasa orangtuamu selama ini agar impas, niscaya bekerja seumur hidup pun ngga akan setara dengan pengorbanan kedua orangtuamu”.

Kubuka album biru, penuh debu dan usang

Kupandangi semua gambar diri, kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang, dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang, tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja, kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah, slalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku, takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci, tlah mengangkat diri ini

Jiwa raga dan seluruh hidup, rela dia berikan

oh bunda ada dan tiada dirimu kan slalu ada di dalam hatiku

Perjuangannya di SD 1 klampok berakhir dengan peringkat 2 nem tertinggi se-kecamatan. Hal itu mendorong adhi melanjutkan sekolah di luar kota, SLTP 1 Purbalingga tepatnya. Entah karena terlalu lelah atau terlalu santai sehingga peringkat adhi di kelas berangsur menurun. Dia lupa tentang susahnya orangtua mencari uang demi biaya sekolahnya. Dia lupa tentang komitmennya saat pertama kali masuk sltp 1 Purbalingga. Dia lupa semuanya. Sungguh malang nasibnya. Hal itu terus berlanjut sampai dia SMA di Purwokerto bahkan kuliah di statistika MIPA UGM.

Itulah kisah seorang manusia yang lupa akan arti dari perjuangan. Adhi lupa jika di rumah ada orangtua yang berharap dia bisa belajar dengan sungguh-sungguh. Adhi lupa jika bu Prapti dan bu Tinah, guru TKnya berharap dia bisa menjadi orang yang berguna. Adhi lupa jika bu Sri, guru kelas 1 SDnya berharap anak didiknya sukses dunia akhirat. Adhi lupa jika bu Widhi, guru kelas 6 SDnya selalu menanyakan kabar dirinya. Adhi lupa jika fufu, ibnu, sunu, satriya, novria, jiwo, deka, sigit, syafril, afi, imam, afi, toim, teman teman SMAnya masih sama sama berjuang di jenjang perkuliahan seperti dirinya. Adhi lupa jika Gempur, windhu, arya, isna, ozenk, bebep, teman teman kuliahnya sudah berjanji jika masuk kuliah sama sama, keluar juga harus sama sama. Adhi lupa semua itu. Dan dia bukannya tidak bisa mengingatnya, tapi dia tidak berani mengingatnya.

Maafkan aku, ibu

Iklan

Aksi

Information

2 responses

13 11 2008
sitra

wah ternyata adhiarsa rakhaman bisa juga ya dramatis
wuih” tak kusangka tak kukira
ayo semangat
mari kita berjuang

14 11 2008
adhiarsa rakhman

mari berjuang
tegakkan kejahatan
basmi keadilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: