aku dan mimpiku

6 11 2008

“Terjatuh lagi, sudah bosan aku. Aku sudah bosan mengejar mimpi yang bersembunyi di balik pelangi itu. Tak kunjung sampai. Walau aku tahu letaknya, walau aku tahu jalannya, walau aku tahu rupa mimpi itu. Bah aku menyerah saja. Kusiakan saja perjalananku yang sudah separuh jalan ini. Toh hujan masih bisa turun di lain hari. Ya hujan yang mengawali pelangi itu. Pelangi yang mengawali mimpi itu.”
Sempat aku berpikir seperti di atas sebelum aku sadar dari lamunanku tentang indahnya kata menyerah. Sekarang aku berpikir untuk mengeliminasi kata menyerah dari kamusku. Memang itu yang jauh lebih baik bukan?
Hujan
Semula berawal dari hujan di sore itu. Hujan berkata,”kau yang sedang bimbang itu. Apa yang sebenarnya kau cari. Harta, ilmu, atau amal? Sesungguhnya kau bisa menemukan ketiganya di kaki langit. Ikuti petunjuk yang akan kuberikan segera setelah aku pergi.” Lalu hujan meninggalkanku dalam sepi. Sejenak sepi itu telah membuatku memutuskan mengikuti tawaran dari sang hujan. Tidak ada salahnya, toh mimpiku memang ingin memperoleh ketiga hal itu sebanyak-banyaknya. Harta yang bisa digunakan untuk mencari ilmu. Ilmu yang bisa digunakan untuk mencari amal. Dan amal yang bisa digunakan untuk mencari surga. Ya surga, itulah mimpiku yang sebenarnya.
Pelangi
Hujan berhenti tidak lama kemudian. Aku bangkit dari bimbangku. Aku tatap kaki langit. Ada semburat warna yang luar biasa indah melintas cakrawala. Semburat warna yang membentang di langit, seakan langit yang luas itu hanya selebar daun kelor baginya. Benar benar panjang. Saking panjangnya, seakan kakinya berada di belahan dunia lain. . Itu yang manusia sebut sebagai pelangi.
Perlahan pelangi itu mulai hilang. Dimulai dari kaki yang satu menuju kaki yang lain. Lalu aku tersadar. Itu petunjuknya, satu satunya petunjuk untuk mengejar mimpiku. Aku tidak boleh kehilangan pelangi. Aku harus mengejarnya hingga aku sampai pada kaki pelangi. Di sana terletak mimpi itu.
Mimpi
Selama lima smester aku mengejar pelangi namun belum sampai ke ujung kakinya juga. Beberapa saat lalu perjuangan selama lima smester itu hampir saja sia-sia. Mimpi yang selama ini kupegang hampir hilang tak bersisa. Aku lalu bertekad untuk terus mengejar mimpi itu, memperjuangkan mimpi itu, lalu meraih mimpi itu tanpa kenal menyerah.
Aku pernah berpikir untuk terbang langsung menuju kaki pelangi menggunakan pesawat jetku. Aku pernah berpikir untuk mengganti pelangiku dengan pelangi yang lain. Aku pernah berpikir untuk menunggu kaki pelangi menghampiriku. Tapi aku tidak akan pernah melakukan semua itu. Karena esensi mimpi adalah perjuangan untuk meraihnya.

Iklan

Aksi

Information

2 responses

13 11 2008
sitra

sok filosofis lu
emang pelangi lu kayak pa sich
mau tau Q
tapi emang hidup itu harus tetep berjuang kok

14 11 2008
adhiarsa rakhman

pelangi aku ya titel s1 dengan perjuangan aku sendiri. amiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: